Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

Sindikat Ganjal ATM di Jakarta Barat Dibongkar, 4 Pelaku Kuras Rp 205 Juta

Polres Metro Jakarta Barat membongkar sindikat pencurian dengan modus ganjal ATM menggunakan tusuk gigi. Empat tersangka ditangkap setelah diduga menukar kartu ATM korban, mengintip PIN, dan menguras rekening dengan total kerugian sekitar Rp205 juta.

REKONFUNEWS.COM, JAKARTA BARAT || Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Barat membongkar sindikat pencurian dengan modus ganjal kartu ATM yang menyasar nasabah saat melakukan transaksi. Empat tersangka diamankan setelah diduga menjalankan aksi dengan cara mengganjal lubang kartu menggunakan tusuk gigi, menukar kartu ATM asli korban dengan kartu palsu, kemudian mengintip nomor PIN untuk menguras uang di rekening.

Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Nasriadi mengatakan, sindikat tersebut memiliki pembagian peran yang cukup terstruktur. Para pelaku tidak bekerja seorang diri, melainkan menjalankan tugas masing-masing mulai dari memantau korban, melakukan penukaran kartu, mengintip PIN hingga menyediakan kendaraan untuk berpindah lokasi.

Empat tersangka yang diamankan masing-masing berinisial FR, AP, AF, dan TH.

โ€œJadi si tersangka ini sudah sindikat. Ada yang memantau dari luar dan ada juga yang sudah standby di ATM dua orang,โ€ kata Nasriadi, Selasa (1/9/2026).

Modus Dimulai dari Tusuk Gigi

Modus yang digunakan sindikat tersebut terbilang sederhana, tetapi memanfaatkan kepanikan nasabah ketika kartu ATM tiba-tiba tidak dapat digunakan.

Pelaku terlebih dahulu memasukkan tusuk gigi ke lubang kartu pada mesin ATM. Akibatnya, kartu ATM nasabah yang hendak bertransaksi tidak dapat masuk atau tidak dapat diproses secara normal.

Saat korban kebingungan menghadapi kondisi tersebut, salah satu pelaku kemudian datang dan berpura-pura memberikan bantuan. Pelaku seolah mengetahui penyebab kartu tidak dapat digunakan dan menawarkan diri untuk membantu korban.

Dalam situasi tersebut, pelaku kemudian mengambil atau meminta kartu ATM korban dengan alasan hendak membantu memasukkannya ke mesin.

Namun, bantuan tersebut justru menjadi bagian utama dari aksi pencurian.

Pelaku dengan cepat menukar kartu ATM asli milik korban dengan kartu ATM palsu yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kartu asli kemudian dikuasai pelaku, sementara kartu palsu diberikan kembali kepada korban.

โ€œATM yang asli dipegang oleh si pelaku, ATM yang palsu dipegang oleh si korban,โ€ ujar Nasriadi.

Korban yang tidak menyadari adanya penukaran kemudian kembali mencoba melakukan transaksi menggunakan kartu palsu. Karena kartu tersebut bukan milik korban, transaksi gagal dan mesin ATM menunjukkan bahwa kartu tidak dapat diproses.

Kondisi tersebut sengaja dimanfaatkan pelaku agar korban mengira terjadi gangguan pada mesin atau kartu ATM.

PIN Korban Diintip Sebelum Rekening Dikuras

Aksi sindikat tidak berhenti setelah berhasil mendapatkan kartu ATM asli.

Pelaku lainnya memiliki tugas mengawasi korban ketika memasukkan PIN ke mesin ATM. Dengan posisi tertentu, pelaku berusaha melihat atau menghafalkan nomor PIN yang digunakan korban.

Dengan demikian, sindikat memperoleh dua informasi penting sekaligus, yakni kartu ATM asli dan nomor PIN korban.

โ€œKetika mereka sudah menguasai ATM yang asli, kemudian sudah diketahui oleh PIN-nya, maka mereka akan pergi ke ATM yang lain untuk menguras uang yang ada di ATM si korban tersebut,โ€ jelas Nasriadi.

Setelah kartu dan PIN berhasil dikuasai, para pelaku kemudian berpindah ke mesin ATM lain untuk melakukan penarikan uang dari rekening korban.

Polisi menyebut aksi tersebut dilakukan di sejumlah lokasi dan melibatkan beberapa bank. Para pelaku juga menyiapkan kartu ATM palsu sebagai bagian dari strategi untuk membuat korban tidak segera menyadari bahwa kartu miliknya telah ditukar.

Empat Tersangka Berbagi Peran

Hasil penyidikan menunjukkan masing-masing tersangka memiliki tugas berbeda dalam menjalankan aksi.

Salah satu pelaku bertugas mendekati korban dan melakukan penukaran kartu. Pelaku lainnya mengawasi korban sekaligus berupaya mengetahui PIN yang dimasukkan.

Ada pula tersangka yang bertugas memantau kondisi sekitar mesin ATM. Peran tersebut penting untuk memastikan situasi dianggap aman sebelum dan setelah aksi dilakukan.

Sementara itu, tersangka lainnya berperan sebagai pengemudi. Kendaraan digunakan untuk membawa para anggota sindikat berpindah dari satu lokasi ATM ke lokasi lainnya.

Pembagian tugas tersebut membuat aksi dapat dilakukan dengan cepat dan meminimalkan risiko bagi para pelaku.

Dalam pengungkapan kasus tersebut, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya 53 kartu ATM, dua tusuk gigi, amplas, lima unit telepon seluler, serta KTP.

Kerugian Korban Capai Rp205 Juta

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Arfan Zulkan Sipayung mengatakan, perkara tersebut berkaitan dengan laporan polisi yang dibuat pada Februari 2026.

Berdasarkan hasil penyidikan sementara, total kerugian yang ditimbulkan akibat aksi tersebut mencapai sekitar Rp205 juta.

โ€œYang kedua ini kita proses terkait LP di bulan Februari, dan kita mengikutinya berdasarkan LP Februari 2026. Dengan nilai total kerugian kurang lebih Rp205 juta,โ€ kata Arfan.

Meski para tersangka dalam pemeriksaan awal mengaku baru melakukan aksi serupa sebanyak dua kali, polisi belum berhenti pada pengakuan tersebut.

Penyidik masih melakukan pengembangan untuk memastikan kemungkinan adanya korban lain maupun lokasi lain yang pernah menjadi sasaran sindikat.

โ€œKami tanya baru dua kali, tapi kami akan melakukan pengembangan kembali,โ€ ujar Arfan.

Polisi juga masih mendalami seluruh aktivitas para tersangka, termasuk kemungkinan adanya penarikan uang dari rekening korban di lokasi lain.

Pelaku Belajar Modus Secara Otodidak

Polisi juga memastikan berdasarkan pemeriksaan sementara tidak ditemukan indikasi bahwa para tersangka merupakan mantan pekerja bank ataupun pernah bekerja di sektor perbankan.

Arfan mengatakan para pelaku diduga mempelajari modus pencurian tersebut secara otodidak.

โ€œJadi kami sudah cek, dari intriknya belum pernah dari bank, jadi mungkin belajar secara otodidak,โ€ ujarnya.

Para tersangka juga diketahui menggunakan kartu ATM palsu yang dibuat atau dicetak untuk mendukung aksi mereka.

Penyidik masih mendalami asal-usul kartu tersebut, termasuk pihak yang mencetaknya. Polisi belum menemukan indikasi bahwa tempat percetakan tersebut secara langsung terlibat dalam sindikat.

Menurut Arfan, kartu tersebut diduga dicetak dengan alasan tertentu yang terlihat seperti kepentingan pribadi, tetapi kemudian digunakan oleh para tersangka untuk menjalankan aksi penipuan terhadap korban.

โ€œKami mencari informasi karena mungkin bisa dibilang percetakannya belum terlibat, tapi dia mencetak secara mungkin bisa dibilang alasan koleksi pribadi dan sebagainya. Padahal ini dilakukan oleh dia untuk menipu orang lain,โ€ kata Arfan.

Polisi Minta Nasabah Waspada

Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Nasriadi mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menerima bantuan dari orang yang tidak dikenal ketika mengalami kendala saat menggunakan mesin ATM.

Nasriadi menilai tawaran bantuan secara tiba-tiba justru patut dicurigai, terutama ketika kartu ATM tidak dapat masuk atau tertahan di mesin.

โ€œApabila ada masyarakat yang mengambil ATM, kemudian ATM-nya tidak bisa masuk, jangan langsung percaya kepada orang yang menawarkan jasa, ya. Karena bisa diduga mereka adalah bagian daripada jaringan,โ€ kata Nasriadi.

Nasabah juga diminta tidak menyerahkan kartu ATM kepada orang lain dalam kondisi apa pun, khususnya kepada orang yang tidak dikenal.

Apabila terjadi gangguan pada mesin ATM, masyarakat disarankan segera meminta bantuan kepada petugas keamanan resmi atau pihak perbankan.

โ€œMinta bantuanlah kepada security bank atau pihak perbankan, ya. Karena merekalah yang lebih mengerti,โ€ ujar Nasriadi.

Kasus ini menjadi peringatan bahwa modus pencurian melalui ATM tidak selalu dilakukan dengan cara merusak mesin atau mengambil kartu secara paksa. Pelaku justru dapat memanfaatkan kepanikan dan ketidaktahuan korban untuk mendapatkan kartu sekaligus PIN.

Dengan terbongkarnya sindikat ganjal ATM di Jakarta Barat tersebut, polisi masih melanjutkan penyidikan untuk mengungkap kemungkinan jaringan yang lebih luas serta mengidentifikasi korban lain yang belum melaporkan kehilangan dana.

Masyarakat yang menemukan kendala pada mesin ATM diimbau tidak panik, tidak memberikan kartu maupun PIN kepada siapa pun, serta segera menghubungi pihak bank melalui saluran resmi. Langkah sederhana tersebut dapat menjadi benteng awal untuk mencegah kartu ATM dan rekening menjadi sasaran sindikat pencurian.

( Red )

BERITA TERBARU YANG DISARANKAN !

Eksplorasi konten lain dari REKONFU NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari REKONFU NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca